RUSAK.
Kabar baiknya, baik-baik saja.
Bangun pagi, mengisi otak dengan himpunan angka dan materi, memusingkan diri dengan setiap langkah-langkah, yang di sebut meluaskan (relasi), banyak nya riuh hari di hadapi seorang diri, setiap mulut-mulut jahat selalu saja menjajah habis-habisan, hahaha, tertawa dengan bait-bait penghakiman yang di ajukan, serasa dunia ku adalah dunia nya. Ucap ku "ya tuhan". Ibu bicara dalam telpon genggam "menerima lebih baik, di banding terus membela diri dan merasa tinggi, toh manusia hanya tanah yang di berinyawa" jika ia yang bicara cukup di balas dengan mengangkat satu alis dan menganggukkan kepala. Begitu saja. Penghakim-penghakim serasa berhak mengendalikan hidupku. Tapi maaf.Mampu menerima bukan berarti bisa bebas di kendalikan bukan?. "Maafkan mereka, ambil baiknya saja, kamu pun manusia,mungkin mulut mu lebih jahat dari mereka" begitu singkat nya para penghakim yang terhormat. Maaf saja. Tidak kuasa ku balas dengan api Karna aku hidup dengan manusia yang konon jika baik sekali hatinya diciptakan dari mutiara . Demikian hidup ku memang tidak sempurna atau pun sehancur dan rusak yang mereka lihat. Sewajarnya saja. Aku tenang seperti ini. Sudah yaa. Pernghakim, silahkan hakimi hidup ini dengan penghakiman mu. Yang konon yang menjalani hidup sangat sibuk. Hahah
Komentar
Posting Komentar