Grateful Heavenly Boys
Sejauh ini aku merasa aman; bahkan sangat aman ketika aku mencari arti namamu… Tujuannya adalah untuk menuliskan tentangmu di balik bunyi keyboardku. Aku sangat ingin bertanya tentang kabarmu di sana (di provinsi itu); walaupun hanya sekadar menanyakan bagaimana kabarmu! Dan jika kau menjawab baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku.
Jika ada kesempatan lebih untukku agar bisa berbincang denganmu, aku akan bertanya, “Apakah kau sudah sembuh dari aku yang saat itu membuatmu hilang percaya diri?” Jika mungkin kau memang sudah sembuh; tetapi rasa bersalah ini seolah-olah mengalihkanku pada sebuah ketidak terimaan bahwa aku tidak mau kehilangan, sekalipun kehilangan itu dihadirkan oleh diriku sendiri.
Pada tahun 2021 lalu, kau berperan penting walau hanya di layar kecil itu; yang terkunci dalam semua log panggilan di alat komunikasiku. Saat itu, kau tidak pernah sia-sia meluangkan waktumu bagiku walau hanya sekadar mendengarkan ceritaku tentang kehidupan dan suasana hatiku kepada seseorang yang saat itu aku kagumi. Kau bersedia saat itu.
Saat aku sering menghabiskan waktu untuk menunggu kesembuhan dengan berbaring di tempat tidur yang sudah usang itu; yang tidak pernah aku sadari, kau juga memberi energi positif bagiku agar mampu bertahan dan lebih bersyukur.
Sekarang aku sudah lebih baik; bahkan sangat amat baik. Ragaku sudah mampu beraktivitas dengan kesibukan-kesibukan yang kuharap bisa membisukan mulutku atas semua keluh kesah yang tidak dapat lagi kusampaikan pada siapapun; karena jujur saja, berbagi denganmu lebih menyenangkan dan penuh solusi. Namun, dengan kesalahanku sendiri, aku kehilangan tempat bernaungku; karena keegoisanku yang tidak mau terlihat buruk di mata semua orang.
Dan tahun 2024 mempertemukanku dengan manusia yang sangat amat baik sepertimu; tapi tidak dengan komunikasi yang hangat itu. Sinonim dari nama tengahnya adalah Ptaka . Dia sangat amat baik. Ada kalanya aku mengaguminya; tetapi ada waktu di mana aku tidak mau melihatnya, bahkan berpapasan sedikitpun dengan orang tersebut aku enggan; karena yang pertama aku takut hal yang sama terjadi pada Ptaka yang selanjutnya. Aku pun masih di ambang pilu dengan menghilangnya semua tentangmu.
Jika kau bertanya padaku, “Mengapa kau tidak menghubungiku jika memang merasa bersalah atau tidak mau kehilangan?” Aku akan menjawab dengan kalimat yang seringkali kau lontarkan padaku ketika aku bercerita tentang diriku yang masih di ambang kesalahan di masa lampau. Begini ucapmu, “Jalani masa kini, lupakan masa lalu”; dan sampai saat ini aku berusaha untuk itu, walaupun itu yang tergaris dalam masa laluku adalah namamu.
Bermuaralah kau tanpa notifikasi yang mendistraksi kehidupanmu; harapanku tetap selalu yang terbaik bagimu, salam hangat untuk hatimu yang tulus itu.

Komentar
Posting Komentar